Bambu
merupakan tanaman yang memang layak menjadi komoditas unggulan Kabupaten
Sleman. Hal ini ditunjukkan dengan hasil observasi langsung dan wawancara
semiterstruktur pada berbagai kelompok tani dan kelompok konservasi di 4
kawasan kabupaten. Masyarakat menyatakan bahwa komoditas bambu sudah ada sejak
lama, biasa dimanfaatkan dan populasinya tersebar merata di kampung-kampung.
Hasil perhitungan dengan menggunakan LQ juga menunjukkan bahwa dari sisi jumlah
populasi serta hasil produksi ternyata komoditas bambu memiliki nilai LQ paling
tinggi dibanding hasil hutan yang lain. Namun demikian masyarakat juga
menyatakan bahwa populasi bambu di kampung masing-masing telah mulai berkurang
drastis sejak listrik masuk desa dan didirikannya rumah-rumah permanen.
Masyarakat
mulai meninggalkan bambu apus yang banyak tumbuh di kampung mereka karena
penerapan teknologi pengawetan tradisional dianggap merepotkan serta yang ahli
membuat atap bambu dengan cara ‘meragum’ juga banyak yang sudah meninggal.
Menurunnya semangat gotong royong dalam pendirian rumah kampung/ “sambatan
ngunggahke empyak’ telah menjadikan keengganan masyarakat untuk memanfaatkan
batang bambu sebagai atap. Padahal dengan atap bambu sebenarnya masyarakat
merasakan kesejukan yang stabil atau ketika cuaca sangat panas atau sangat
dingin diluar tetapi hawa dibawah atap bambu tetap hangat/sejuk.
